Menimbang Peran Organisasi Mahasiswa: Investasi Masa Depan atau Hanya Formalitas?

Daerah 20 Apr 2026 23:37 2 min read 187 views By Redaksi Starapos

Share berita ini

Menimbang Peran Organisasi Mahasiswa: Investasi Masa Depan atau Hanya Formalitas?
FOTO : Menimbang Peran Organisasi Mahasiswa: Investasi Masa Depan atau Hanya Formalitas?

Kabupaten Lebak, 19 April 2026 — Fenomena “mahasiswa kupu-kupu” (kuliah–pulang) dan “mahasiswa kura-kura” (kuliah–rapat) kembali mencuat di tengah meningkatnya tuntutan akademik. Mahasiswa dihadapkan pada dua pilihan: fokus mengejar prestasi akademik atau aktif mengembangkan kemampuan non-akademik seperti kepemimpinan, komunikasi, dan pemecahan masalah yang juga sangat dibutuhkan di dunia kerja.

 

Menjawab dilema tersebut, Himpunan Mahasiswa Jurusan Kebidanan menggelar kegiatan Ngobrol Pintar sebagai wadah diskusi kritis untuk meninjau kembali pentingnya organisasi mahasiswa dalam membentuk karakter dan meningkatkan kapasitas diri.

 

Dalam forum tersebut, terungkap bahwa organisasi sering kali terjebak pada aktivitas administratif dan seremonial semata, sehingga fungsi utamanya sebagai ruang pengembangan diri kerap terabaikan. Padahal, organisasi seharusnya menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk belajar di luar ruang kelas.

 

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Kebidanan, R.R. Anisa Lintang, menegaskan bahwa nilai organisasi sangat bergantung pada bagaimana individu menjalaninya.

 


“Organisasi bisa menjadi sekadar formalitas jika hanya dijadikan sarana mengumpulkan sertifikat. Namun, ia akan menjadi investasi masa depan bila dijalani dengan kesungguhan, proses, dan semangat belajar,” ujarnya.

 

Hal senada disampaikan Koordinator Forum BEM Lebak, Yovan Alfahrizi, yang menekankan pentingnya mengembalikan fungsi organisasi sebagai ruang pembentukan karakter dan kepekaan sosial.


“Organisasi mahasiswa tidak boleh hanya menjadi pelengkap CV. Ia harus menjadi ruang pembelajaran kritis, tempat mahasiswa diasah untuk peka terhadap persoalan masyarakat dan berani mengambil peran,” tegasnya.

 

Ia juga mengingatkan bahwa hilangnya arah dalam berorganisasi dapat melemahkan peran mahasiswa sebagai agen perubahan.


“Jika organisasi hanya berkutat pada rutinitas administratif, maka bukan hanya fungsi kaderisasi yang hilang, tetapi juga ruh gerakan mahasiswa itu sendiri,” tambahnya.

 

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat mengubah cara pandang terhadap organisasi—dari yang semula dianggap beban, menjadi ruang strategis untuk pengembangan diri. Sebab, gelar akademik mungkin membuka pintu awal, tetapi karakter, pengalaman, dan kapasitas diri lah yang akan menentukan keberlanjutan langkah di masa depan.

 

rcd

 

STARAPOS